Cakrawala Merah, Karawaci – Yohanes Parwoto, General Manager Sapphire Sky Hospitality (SSH) menilai profesi wedding organizer (WO) dan event organizer (EO) saling melengkapi sebagai penyedia jasa profesional untuk merencanakan dan mengeksekusi sebuah pernikahan. Sehingga SSH menyelenggarakan pertama kalinya WO & EO gathering untuk memenuhi kebutuhan pasangan pengantin dan keluarganya.
“Biasanya EO dan WO merangkap (menjadi satu) bekerja untuk memenuhi kebutuhan yang semakin banyak dicari para calon pengantin. Kami, Sapphire Sky Hospitality menyelenggarakan gathering untuk pertama kalinya, berbarengan dengan pameran pernikahan di BSD,” kata Yohanes Parwoto pada Rabu (11/02/2026) saat menggelar WO & EO Gathering di Yasmin Hotel Karawaci
Kegiatan event planning, profesi EO dan WO memang bertanggung jawab atas kelancaran acara, kendatipun ada perbedaan peran, cakupan kerja, dan tantangan. Tapi mengingat tuntutan masyarakat khususnya pengantin dan keluarganya semakin tinggi, EO & WO sering harus bekerjasama dan saling mengisi.
“Kami melihat fenomena tersebut, dan akhirnya mengundang para EO dan WO disini (Yasmin Hotel Karawaci). Keseluruhan ada sekitar 25 WO dan EO yang ikut gathering. Ada yang dari Tangerang raya, Jakarta, dan sekitarnya. Sebagian besar antusias, dan kami sangat berharap ada kerjasama yang baik dengan mereka,” kata Yohanes Parwoto.
Acara gathering berlangsung sekitar dua jam, dan juga diisi dengan paparan mengenai berbagai fasilitas dan benefit hasil kerjasama dengan SSH. Mengingat, jaringan SSH terutama Yasmin hotel merupakan satu-satunya hotel dengan fasilitas lobby dan ballroom paling besar khususnya di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Desain lobby yang berada pada satu level dengan ballroom, resto, swimming pool, gym juga lebih menciptakan kenyamanan untuk kegiatan pernikahan.
“Selain SSH mengambil segmen pemerintahan, corporate dan family . Untuk pemerintahan, sering ada rapat-rapat dari kantor dinas di Tangerang Raya di function room ,” imbuh Yohanes Parwoto.
Musim masa pernikahan (peak season) di Indonesia umumnya satu bulan sebelum dan sesudah Lebaran Idul Fitri. Tapi hal tersebut juga sangat tergantung fenomena hujan dan kemarau. Pasalnya, pertengahan tahun itu biasanya sedang memasuki musim kemarau. Fenomena hujan di periode kemarau kadang juga terjadi.
“Masa pernikahan sebetulnya seasonal (musiman) juga. Sehingga kami melihat kebutuhan jasa EO dan WO sangat significant. Apalagi masyarakat Indonesia sebagian besar masih melihat bahwa pernikahan itu sekali seumur hidup,” tutup Yohanes Parwoto. (Red/Ly)
