Prof. Satyanegara Penuhi Kriteria sebagai Narasumber Britishpedia

Spread the love

Cakrawala Merah, Jakarta – Prof. Satyanegara, dokter ahli bedah saraf senior di Indonesia sempat mengajukan pertanyaan terlebih dahulu kepada editor Britishpedia, sebelum sesi wawancara di ruang kerjanya di Tzu Chi Hospital (TCH) PIK, yakni mengenai kriteria seleksi narasumber. 

Koq bisa mau bikin feature mengenai saya?” tanya Prof. Satyanegara kepada Britishpedia. 

Merespons pertanyaan tersebut, editor menjelaskan bahwa ada tiga ketentuan kriteria pemilihan narasumber, yakni kontribusi bagi masyarakat luas, impact nya terhadap masyarakat luas dan komitmen atau konsistensi. Dalam hal ini, kontribusi nyata Prof. Satyanegara sudah jelas, yakni bidang kedokteran terutama bedah saraf. 

“Kami sudah research terlebih dahulu, dan melihat kontribusi Prof sangat besar. Selain, (komitmen dan konsistensi) bukan hanya dua, tiga tahun, tapi hampir enam puluh tahun untuk kedokteran,” kata editor Britishpedia, Elvira Savitri. 

Britishpedia berupaya merekam perjalanan, mengukir sejarah melalui mereka yang selama ini luar biasa kontribusinya. Britishpedia menyusun karya tahunan bertajuk ” Successful People “, yang memuat kisah-kisah inspiratif dari perjalanan hidup individu terpilih. Sepanjang tahun, tim editor dari seluruh penjuru negeri melakukan pertemuan dengan para tokoh yang bersedia meluangkan waktu untuk mengenang serta mengulas kembali momen-momen penting yang membentuk kehidupan mereka. 

“Kami bisa bagikan (ukiran sejarah) kepada generasi yang akan datang. Sehingga interview dengan orang-orang terpilih, dengan proses yang _selective_ , serta invitation only. Dokumentasi sejarah, dalam bentuk buku sejarah, tentunya juga bisa menjadi legacy . Kalau tulisan di internet, kami tidak tahu kontrol validasi informasinya,” kata Elvira. 

Setelah mendengar penjelasan, Prof. Satyanegara mengajukan pertanyaan lain. Apakah ia merupakan narasumber yang paling tua dari sekian narasumber yang memenuhi kriteria Successful People in Indonesia. 

Editor pun menjelaskan bahwa Britishpedia sudah pernah wawancara  Mirta Kartohadiprodjo (lahir 13 September 1944), yang sekarang usianya sudah mencapai 82 tahun. Mirtha Kartohadiprodjo adalah seorang pengusaha, jurnalis dan pendiri kelompok usaha penerbitan Femina Group dan menjabat CEO pada grup usaha tersebut, beliau anak Sutan Takdir Alisjahbana. Ibu Mirta, Founder Femina Group. 

“Beliau sangat senior, credible , sama dengan Prof. Tapi ibu Mirta sudah tidak aktif lagi di media, sementara Prof masih aktif memberikan pelayanan kesehatan di beberapa rumah sakit,” kata Elvira Savitri.

Sejak 2013, Britishpedia telah mendokumentasikan kehidupan orang-orang sukses yang telah menciptakan perjalanan hidup yang menginspirasi melalui tekad, keberanian, dan ketekunan mereka. Ensiklopedia tahunan kami, ” Successful People in Indonesia “, bukan sekadar kumpulan informasi semata – melainkan sebuah penghormatan bagi mereka yang kisah hidupnya mampu menginspirasi banyak orang. 

“Buku kami di support dengan representative di sembilan negara di dunia. salah satunya, (distribusi buku) di berbagai perpustakaan nasional di sembilan negara tersebut. Kami memberi buku ini sebagai hibah/gratis kepada perpustakaan daerah dan nasional serta universitas. Ke depan, mungkin ke museum. Kami tidak komersialisasi. Benefit tambahan untuk narasumber, baik dalam dan luar negeri, terkoneksi dalam satu platform ,” kata Elvira. 

Materi utama wawancara, terutama autobiografi Prof. Satyanegara yang nama Tionghoa, Oei Kim Seng. nama asli (Tionghoa) beliau diubah menjadi Satyanegara saat dipanggil pulang pak Harto (presiden ke 2 Republik Indonesia, Soeharto) dari Jepang untuk menerima amanah untuk memajukan dunia kesehatan di tanah air. 

“Dalam perjalanan hidup saya, hal yang paling tidak terlupakan yakni ketika Ayah saya melepas kepergian saya ke Jepang untuk studi kedokteran tahun 1958. Kata-kata Ayahnya masih terngiang sampai sekarang. “Ayah saya bilang, ‘ _Nak_ , kalau kamu tidak berhasil, pertemuan ini adalah pertemuan yang terakhir!’. Saya merasa sangat tertekan, dan pada saat yang sama, saya termotivasi. kata-kata ini lalu menjadi cambuk untuk anak lulusan SMA yang sebelumnya sudah belajar mandiri itu. Mau tak mau, tidak ada pilihan lain, saya harus bisa berhasil,” kata Prof. Satyanegara saat wawancara. 

Testimoni lain, yakni suasana saat pulang ke Indonesia pada 18 September 1972. Saat itu, sesungguhnya ia merasa menjadi orang dengan semangat Indonesia pada jiwanya.  

“Dengan kibaran Merah Putih di belakang tubuh, ketika saya menginjakkan kaki di bandara. setelah 14 tahun berjuang di Jepang, sampai dipercaya menjadi tim dokter Kepresidenan RI, saya sangat bangga. tapi tidak ada pujian sedikitpun keluar dari mulut orang tua saya saat itu,” katanya. 

Bagian kehidupan dan pencapaiannya, banyak dituangkan dalam buku-buku biografinya termasuk buku pertama “Ayat-ayat Filosofi Satyanegara”. Buku biografi pertamanya berisikan kisah masa kecil sampai masa belajar di Jepang. Buku biografi yang baru diluncurkan dua tahun yang lalu, berjudul ‘Senyum Samurai Satyanegara.’ Buku tersebut berisikan kisah beliau sejak dipanggil pulang oleh Presiden Soeharto ke tanah air untuk memajukan dunia kesehatan khususnya bedah saraf Indonesia sampai hari ini. Sebagai diaspora dengan latarbelakang etnis Tionghoa yang mengemban amanah khusus dari RI 1 pada saat itu, membawa beliau sangat dekat dengan tokoh-tokoh penting di tanah air. (Red/Ly/Yn) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *