Perayaan Waisak di Bundaran HI, Cerminan Semangat Kebersamaan

Spread the love

Cakrawala Merah, Jakarta – Bhikkhu Sangha Theravada Indonesia (STI) Dhammasubho Mahathera mengajak umat kembali merenungi ajaran Buddha Gautama yang masih sangat relevan di segala zaman, sejak era colonial (Belanda) sampai milenial pada perayaan Waisak di Bundaran HI dengan tema Glow of Peace. Suasana Waisak di pusat kota serta dikelilingi gedung pencakar langit bukan hanya sebatas gemerlapnya Jakarta bercahaya, tapi juga semangat kebersamaan. 

“Semangat dengan nilai-nilai luhur ajaran Buddha, menuju kehidupan harmonis, penuh welas asih di tengah keberagaman warga Jakarta,” kata Dhammasubho saat memberi kata sambutan, dan didampingi oleh lima tokoh Agama. 

Acara berlangsung sekitar jam 18.30 sampai 20.00, diselingi dengan berbagai kesenian baik khas agama Buddha maupun Betawi. Peserta yang hadir bukan hanya umat Buddha, tapi juga berbagai lapisan masyarakat dan lintas agama. Acara diselenggarakan Pemprov DKI Jakarta, serta Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Permabudhi (Persatuan Umat Buddha Indonesia). beberapa pejabat dan tokoh masyarakat yang hadir, antara lain Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama, Supriyadi, sekjen Permabudhi, Philip K. Wijaya dan lain sebagainya. 

Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno menilai suasana Waisak dari tahun ke tahun berlangsung khidmat. Sama seperti perayaan Waisak tahun ini, dan baru pertama kalinya digelar di tengah pusat kota Jakarta, di Bundaran HI. Momentum perayaan Waisak di Bundaran HI akan semakin menjadikan Jakarta sebagai kota global, dengan 11 juta jiwa warga yang berbudaya, inclusive, toleran serta menjaga keberagaman. 

“Bundaran HI sudah menjadi halaman bersama untuk semua warga, mulai dari festival Imlek, pawai ogoh-ogoh (hari suci Nyepi), dan lain sebagainya. Tempat ini (Bundaran HI) terus menjadi cerminan keberagaman,” kata Rano Karno pada kata sambutannya. 

Tema Waisak ‘Glow of Peace’ dengan cahaya di Bundaran HI tentunya bukan hanya hiasan kota, tapi suasana yang diterangi semua warga dengan ketentraman. Makna Waisak, mengingatkan umat beragama pada kebijaksanaan, welas asih, harmoni. Nilai-nilai tersebut melewati semua jenis batas dan entitas, menerangi semua warga Jakarta yang hidup dalam keberagaman, dan saling hidup rukun. 

“Saya harap Glow of Peace, bukan sekedar indah dilihat, tapi juga dirasakan. Setiap cahaya dari gedung-gedung pencakar langit mengingatkan kembali bahwa Jakarta bisa tumbuh sebagai kota yang aman, nyaman, penuh welas asih. Kami juga mengajak semua pemimpin dan tokoh agama Buddha, untuk ikut membenahi Jakarta mulai dari yang sederhana, memilah sampah di tempat tinggal serta rumah ibadah. Dari hal yang sederhana, bisa terus mendorong Jakarta sebagai kota global yang toleran, aman dan nyaman,” ungkap Rano Karno.

Sementara itu, pengusaha swasta nasional yang juga beragama Buddha, David Herman Jaya mengaku sangat Bahagia bisa merayakan Waisak di ruang terbuka alam, di tengah hiruk pikuk kota dan aktivitas bisnis. 

“Tapi acara berjalan lancar dan khidmat. Selain, Waisak di Bundaran HI merupakan kolaborasi bersama dua organisasi besar agama Buddha, (yakni) Permabudhi (Persatuan Umat Buddha Indonesia) dan Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia). sebelumnya, masing-masing (Walubi dan Permabudhi) menyelenggarakan Waisak masing-masing. Tapi kali ini, keduanya bekerja bersama,” tutup David Herman, founder New Armada Group, salah satu perusahaan karoseri dan manufaktur kendaraan terbesar di Indonesia.(red/Ly/Yn) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *