Nikmati Sajian Estetika Tari Sufi Selama Ramadhan di Sapphire Sky Hotel

Spread the love

Cakrawala Merah, Tangerang – Kalau ada pertanyaan polling untuk mengetahui tarian sufi, yang diajukan kepada setiap orang, sebagian besar langsung mengomentari dan mengidentikkan sebagai tarian pusing atau tarian muter. Karena penarinya memang berputar terus menerus, 360 derajat putar dalam waktu yang lama tanpa beban merasa pusing. Seperti penampilan penari sufi, di Sapphire Sky hotel , Serpong Tangerang Selatan yang menarik banyak tamu yang berbarengan dengan gelar buka puasa bersama. 

“Tahun lalu, kami gelar tarian sufi juga, bahkan dibarengi dengan penyanyi lagu religi Ramadhan. Tamu Sapphire Sky hotel antusias karena keunikan tarian tersebut,” ungkap General Manager Sapphire Sky Hotel BSD City and Yasmin Hotel Karawaci, Yohanes Parwoto kepada Redaksi.

Penari sufi di atas panggung di lobi Sapphire Sky, mulai tampil saat acara buka puasa. Beberapa tamu, sambil menikmati hidangan buka puasa, menikmati tarian yang dibawakan oleh Fajar. Baginya, tampil menari sufi di hotel bukan pertama kalinya dan tidak lagi sebagai tarian langka. Karena ia melihat tarian sufi semakin popular di Indonesia, terutama untuk anak-anak muda seusianya. 

“Waktu saya masih duduk di SMP kelas dua, usia sekitar 15 tahun, mulai latihan tari sufi di Pekalongan. Semakin hari, saya semakin tertarik. Bukan hanya estetika tariannya, tapi juga filosofinya. Kalau menari sufi dengan energy positif, rasa cinta universal, penari tidak akan merasa pusing walau muter-muter non-stop,” kata Fajar, kelahiran Brebes 20 tahun yang lalu. 

Tarian dari Turki ini juga dikenal dengan sebutan whirling dervishes dengan kekhasan penari yang berputar-putar tapi gerakan berputar sebetulnya bagian dari memahami dan mengerti makna meditasi dan cinta universal. Sehingga penari tidak hanya sebatas latihan untuk menjaga keseimbangan di panggung, tapi juga mewujudkan rasa cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga tidak heran, kalau tarian sufi tidak melulu dikaitkan dengan Islam atau muslim. 

Karena di Dubai sebagai kota metropolitan dengan populasi ekspatriat yang sangat tinggi, banyak penduduknya yang mulai latihan tari sufi. Begitu pula, terutama komunitas orang Turki di Jerman yang aktif menggiatkan tarian sufi. 

“Di Dubai, banyak yang non-Muslim dan latihan tari sufi. Beberapa turis asal Perancis sempat latihan tari sufi di Indonesia. Saya sebagai penari juga tidak melulu tampil di tengah suasana Ramadhan. Sebaliknya, saya beberapa kali tampil di acara pernikahan, tahun baru dan beberapa perayaan lain,” kata Fajar yang masa sekolahnya dari SD hingga SMA di Pekalongan.

Ia pertama kali tertarik dengan tarian sufi, ketika ikut pengajian di Pekalongan. Ia terkesima dengan gerakan berputar-putar tiada henti, yang kebetulan penarinya pasangan lelaki dan perempuan. Sekelebat, ia melihat gerakan penari sangat elegan, anggun. Lalu ia memberanikan diri berkenalan dengan penari tersebut. setelah itu, ia juga mencari guru besar sufi di Indonesia, yakni KH Amin Budi Harjono. Beliau seorang da’i sekaligus budayawan yang konsisten mempopulerkan tari sufi di Indonesia. 

“Sejak perkenalan itu, saya rutin latihan. saya menyatakan tekad di dalam hati, keinginan untuk jadi penari sufi. Saya mulai berlatih, awalnya di sanggar, lalu bisa di rumah. Saya berusaha memahami makna spiritualitasnya dan kaitan dengan keseimbangan ketika berputar-putar 360 derajat di atas panggung. Dari situ, saya semakin yakin bahwa penari sufi harus punya rasa cinta universal untuk keseimbangan,” pungkas Fajar.

Ragam seni budaya yang ditampilkan oleh management Sapphire Sky Hotel Tangerang ini mendapat perhatian dan respon positif dari seluruh pelanggan hotel. (Red/Ly/Ymn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *