HUT ke 34 RSSN Sunter, Direktur Senior Kilas Balik Lewati Masa Kritis Pandemi Covid-19*

Spread the love

Cakrawala Merah, Jakarta – Kilas balik hari-hari menegangkan lima tahun lalu saat wabah pandemi Covid-19 mulai melanda Indonesia sampai pada titik waktu akhir pandemi dan adaptasi hidup normal menjadi renungan peringatan dan perayaan HUT ke 34 Rumah Sakit Satya Negara (RSSN) Sunter.

“Seluruh Indonesia, ada sekian ratus dokter kena covid. Di RSSN juga ada korban covid 19. Untung, RSSN bisa survive dan kita semua bisa beraktivitas kembali sampai sekarang memberi pelayanan kesehatan kepada pasien,” kata direktur senior RSSN Sunter Prof. Satyanegara kepada Redaksi.

Perayaan HUT ke-34 RSSN berlangsung sederhana di ruang serba guna yang berdekatan dengan Gedung utama. Seluruh pemegang saham, management dan tenaga medis dan kesehatan merayakan bersama, dibarengi potong tumpeng dan acara kesenian beberapa staf tenaga kesehatan atau nakes. 

“Maka pasca covid dan tahapan new normal (setelah pandemi covid selesai), upaya preventif (terhadap penyakit) perlu terus didengungkan dan dan menjadi bagian dari kegiatan perayaan HUT RSSN sejak tahun 2023 yang lalu,” kata Prof. Satyanegara saat memberi kata sambutan HUT ke 34 RSSN.

Rumah Sakit Satya Negara sebelumnya bernama Rumah Sakit Sunter Agung, yang didirikan pada tahun 1991 dan kemudian bertransformasi menjadi rumah sakit terkemuka di Indonesia. RSSN tersebut terus berkembang dan berevolusi, salah satunya adalah transformasi pada tahun 2004 untuk menjadi rumah sakit unggulan dalam bidang bedah saraf. 

Rumah sakit ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. Satyanegara, Sp.BS, seorang dokter bedah saraf terkemuka, menjadikannya salah satu rumah sakit unggulan dalam bidang tersebut. 

“Sekembali dari Jepang pada tahun1972, rutinitas saya berangkat kerja jam 6 dan pulang sekitar jam 2, bahkan jam 3 pagi. Selama kurang lebih 30 tahun, waktu mengabdi pada RS Pusat Pertamina (RSPP) sampai pensiun, rutinitas kerja yang tidak berubah. Setelah pensiun dari RSPP, agak slow down walaupun tetap sibuk. Tapi yang paling mengubah kebiasaan saya, termasuk rutinitas kerja, waktu pandemi covid itu. Saya sempat depresi juga terus-terus di rumah saja, sendirian. Memberi konsultasi dan rapat melalui zoom saja. Dalam perjalanan, waktu RSSN sangat berjaya, waktu itu, dr. Imansyah, Sp.PD sebagai direktur utama, rawat inap RSSN penuh. Bahkan tempat tidurnya sudah tidak cukup, sampai ada peminjaman velbed untuk menampung pasien. Perjalanan waktu selama 34 tahun, RSSN tetap survive serta mewujudkan misi sebagai pelayanan kesehatan terdepan untuk pasien” papar Prof. Satyanegara.Salah satu pemegang saham RSSN Sunter, Adi Djohari (kanan depan) memberi tumpeng kepada direktur utama RSSN, dr. Ocky Melati sebagai simbol peringatan momen pentingPemegang saham RSSN Sunter, Adi Djohari (kanan depan) memberi tumpeng kepada direktur utama RSSN, dr. Ocky Melati sebagai simbol peringatan momen penting

Sementara itu, direktur utama RSSN dr. Ocky Melati Indah Sari, M.P.H. mengatakan bahwa makna usia 34 pada RSSN, lebih dari sekedar angka. Usia ke 34 juga bukan hanya penanda dari perjalanan menuju sukses di dalam pelayanan kesehatan, tapi juga bukti komitmen.

“Perjalanan dan kerja keras kita semua, baik management, tenaga medis, tenaga kesehatan dan pemegang saham mewujudkan misi RSSN sejak berdiri tahun 1991 yang lalu,” kata Ocky Melati pada sambutan perayaan HUT RSSN. (Red/Ly/Ymn) 

Direktur utama RSSN, dr. Ocky Melati saat memberi kata sambutan pada peringatan HUT ke 34 RSSN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *