Cakrawala Merah, Jakarta – Langit senja Jakarta, terutama sejak tanggal 28/8 (Kamis) terlihat redup, mendung hitam pekat, serta angin bertiup lemah lembut di tengah suasana panas akibat kerusuhan di berbagai kota besar di Indonesia, terutama Jakarta. Imbas kerusuhan, terutama setelah makan korban jiwa pengemudi ojek online yang terlindas, aktivitas bisnis dan perdagangan banyak yang tutup termasuk pecinan Glodok. Salah satu spot yang rentan kena dampak kerusuhan terutama karena kondisi politik dan perekonomian Indonesia, yakni Glodok. Seperti yang dilakukan pemilik restoran skala Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) di Jl. Kemenangan, Glodok, dengan tetap antisipasi.
“Sudah tiga hari tutup, sejak tanggal dua tujuh (27/8). situasi kondisinya tidak memungkinkan. Bukan hanya antisipasi, tapi juga karena sepi. Siapa yang mau ke Glodok, kalau kerusuhan meletus dimana-mana, di Senen, Senayan, bahkan di luar kota,” kata Dani, pemilik resto UMKM di Glodok.
Ketika aksi demo sudah bakar-bakaran, bahkan hampir menjarah beberapa perkantoran dan pertokoan, ia belum melihat mobilisasi aparat TNI dan kepolisian untuk menjaga kawasan Glodok.
Kilas balik kerusuhan Mei 98, terjadi penjarahan terutama barang elektronik di pertokoan Glodok. Tapi kondisi Glodok sudah berubah, bukan lagi sebagai ‘gudang’ (pertokoan) elektronik lagi. Toko elektronik sudah menyebar ke pusat-pusat perdagangan yang lain seperti Mangga Dua, dan wilayah selatan Jakarta seperti Pondok Indah, Kuningan dan lain sebagainya.
“Kalaupun terjadi penjarahan, Glodok bukan lagi ‘gudang’ elektronik. Tahun 1980-an sampai 1990-an, mungkin masih banyak toko elektronik. Tapi setelah kerusuhan Mei, perdagangan barang elektronik termasuk komputer sudah menyebar ke berbagai wilayah. Kondisi seperti sekarang ini (kerusuhan dimana-mana), Glodok bukan lagi sasaran penjarahan. Tapi kondisinya sepi, masyarakat cenderung menetap di rumah,” kata Dani.
Sama seperti yang diutarakan marketing communication (Marcom) Petak 6 (P6) Glodok, Novrin. P6 sebagai pusat wisata belanja sekaligus pusat wisata kuliner, biasanya selalu padat dengan pengunjung dan turis asing baik dari Eropa, Amerika, Asia. Terutama pada akhir pekan, ketika ada live music di P6, pengunjung membludak.
“Tapi malam ini (29/8, Jumat) sepi. Bahkan kami juga menunda acara lomba mewarnai untuk anak-anak ditunda,” kata Novrin.
Selama ini, terutama akhir pekan, pengunjung P6 berdansa-dansa bersama sambil menikmati live music. Tapi ketika ada kerusuhan, bukan hanya P6, tapi juga pertokoan gedung Candra hampir semuanya tutup. Kalaupun ada pedagang yang nekat buka toko, hanya bertahan sampai jam 3 sore. Biasanya mereka tutup setelah Maghrib. Tetapi ketika kerusuhan 28 & 29 Agustus meletus, praktis Glodok sepi bak kuburan. “Live music tetap digelar, tapi sepi pengunjung. The show must go on, kendatipun hampir tidak ada pengunjung. Karena live music digelar rutin setiap akhir pekan.
Kami tidak tutup total karena belum ada arahan dari owner (P6). Kecuali ada gelagat kerusuhan semakin besar, Petak 6 pasti ditutup,” pungkas Novrin kepada redaksi. (Red/Ly/Ymn)
