Cakrawala Merah, Karawaci – Ajahn Brahm, sosok bhikkhu penganut Buddha Theravāda yang ceramahnya sering diselingi dengan banyolan, bahkan sering membuat umat tertawa terpingkal-pingkal melihat masyarakat Indonesia sangat ramah, peduli, tulus. Hal ini tidak lepas dari Pancasila sebagai dasar negara, pandangan hidup dan pedoman moral bagi seluruh rakyat Indonesia dalam menjalani kesehariannya.
“Karakter masyarakat, umat Buddha Indonesia sangat baik, ramah, peduli. Seperti dana makanan pagi ini (di Yasmin hotel, Karawaci Tangerang), ada ice cream, biscuit, dan lain sebagainya. Banyak sekali dikasih kepada saya. Kalau perut saya semakin gendut, itu juga karena kebaikan mereka,” kata Ajahn Brahm diiringi gelak ketawa umat yang berkunjung retreat di Yasmin Hotel Karawaci.
Saat ini, Ajahn Brahm adalah kepala biara dari Biara Bodhinyana di Serpentine, Australia Barat; Penasihat Spiritual pada Masyarakat Buddhis Victoria; Penasihat Spiritual pada Masyarakat Buddhis Australia Selatan; Pelindung Spiritual dari Persekutuan Buddhis di Singapura dan lain sebagainya.
Kunjungan ke Indonesia kali ini merupakan yang ke 6 kalinya, Ajahn Brahm memberi ceramah, talk show dan retreat di lima kota, yakni Denpasar, Semarang, Bandung, Karawaci dan Jakarta.
“Pertama kalinya saya ke Indonesia pada tahun 2008 yang lalu. Tapi beberapa kali talk show, retreat juga di hotel ini (Yasmin). Pada setiap kali kunjungan, saya melihat nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, nyata pada keseharian masyarakat,” kata Ajahn Brahm.
Pancasila sebagai dasar negara juga menyemangati Kebajikan, kesejahteraan yang tercermin dalam keseharian masyarakat Indonesia. seperti ketika ia sempat mengunjungi sebuah sekolah, ada sekitar seribu orang sedang mengadakan kegiatan. Banyak orang tua murid di sekolah tersebut memberikan sesuatu kepada Ajahn Brahm. Pada kesempatan tersebut. Ajahn Brahm juga memberikan bukunya mengenai Meditasi. Pada bagian buku tersebut juga mengungkap kesamaan filosofi 5 jari manusia dengan berbagai makna dan perlambangan.
Menurutnya, jempol atau ibu jari dianggap yang paling penting, karena melambangkan kekuatan, kokoh. Sedangkan jari telunjuk juga claim sebagai yang paling penting dibanding empat jari lain. Jari telunjuk digunakan untuk menunjuk orang lain. Sementara, jari tengah juga claim sebagai yang paling tinggi, berkuasa. Jari manis dilambangkan sebagai pasangan hidup. Sehingga ketika orang bertunangan, sebagaimana lazimnya pasangan memakai cincin tunangan di jari manisnya. “jari kelingking juga claim sebagai yang paling penting. Bahkan jari kelingking sering digunakan untuk korek kotoran di dalam telinga. Tapi kelingking merupakan jari yang paling dekat dengan Tuhan kita. Seperti sikap Anjali (penghormatan dalam kebaktian agama Buddha dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan dada), kelingking yang paling dekat dengan altar dengan Rupang Buddha di atasnya. Begitu pula dengan Umat Islam, Kristen dan lain sebagainya, saat beribadah, kelingking yang paling dekat dengan Tuhannya”, pungkas Ajahn Brahm saat ditemui usai makan pagi di Yasmin Hotel, Karawaci. (Ly/Red/Ymn)
