Cakrawala Merah, Jakarta – Kunjungan delegasi Departemen Sumber Daya Air (SDA) provinsi Anhui, China ke Lokasi Sodetan Kali Ciliwung, Bidara Cina Jakarta Timur berlangsung sekitar satu jam, dengan terlebih dahulu mendengarkan presentasi dari Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC), David Partonggo Oloan Marpaung. Maksud dan tujuan kunjungan, salah satunya mengadakan studi banding terutama penanganan banjir serta kaitannya dengan dampak perubahan iklim terhadap banjir khususnya di Jakarta. Rombongan delegasi terdiri dari enam orang, termasuk ketuanya, Deputy Director, Anhui Provincial Department of Water Resources, Mr. Chen Xinyu / 陈新宇 .
Sehari sebelumnya, delegasi sempat mengadakan pertemuan dengan Direktur Sistem dan Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Bp. Fikri Abdurrachman. Delegasi terdiri dari Sun Xiangyang 孙向阳 ((Director of the Supervision Department, Anhui Provincial Department of Water Resources), Chen Fangzhen 陈防震 (Deputy Director, Longhekou Reservoir Management Office, Anhui Province), Wu Chen 吴晨 ((Deputy Director, Anhui Yangtze River Management Bureau), Zhang Yifeng 张义峰 ((Deputy Director, Simashan River Diversion Project Management Office, Anhui Province), Zheng Kaifa 郑开发 (Deputy Director, Meishan Reservoir Management Office, Anhui Province)
Pada sesi tanya jawab di kantor BBWSCC di lokasi Sodetan, Bidara Cina Jatinegara Jakarta Timur, Chen Xinyu sempat bertanya mengenai system pemantauan banjir selain menggunakan CCTV, yang juga bisa memantau ketinggian air.
“Apakah BBWSCC punya system lain untuk pemantauan, selain CCTV. Misalkan deteksi muka air pada pintu air bendung Katulampa (kabupaten Bogor, Jawa Barat)?,” tanya Chen Xinyu.
David Marpaung menjelaskan, bahwa kedepannya, BBWSCC akan menerapkan system baru. Tapi system tersebut masih dalam tahap pengembangan, sehingga petugas bisa mendeteksi ketinggian muka air pada level tertentu.
“Misalkan muka air (di Katulampa) sudah mencapai sekian centimeter, nanti ada text message (WhatsApp) dan di update petugas.
“Ketika muka air sampai pada level warna kuning, muka air naik. Kita harus buka bendung, sehingga tidak terjadi banjir. Sistem deteksi dengan WhatsApp, masih dalam tahap pengembangan. kalau muka air tinggi, otomatis ada text message WhatsApp. Ketika dari siaga 3 ke siaga 2, terkirim text message WhatsApp sehingga petugas bisa monitor dan apa yang harus kita lakukan, misalkan memberi arahan untuk (masyarakat) mengungsi,” kata David Marpaung.
Chen Xinyu 陈新宇 juga merespons beberapa bagian materi presentasi David Marpaung, termasuk penerapan warna-warna (hijau, biru, kuning, merah) sebagai status Siaga 1 – 4 dengan ketinggian air pada pintu air Bendung Katulampa, Bogor. Departemen Sumber Daya Air (SDA) Anhui juga menerapkan metode yang sama, dengan warna untuk status (ketinggian air). Tapi warna pada bendung Katulampa kelihatan lebih menyolok, kentara sehingga mudah terlihat secara kasat mata.
“Detail status (muka air) dan warna di Bendung Katulampa, seperti warna merah untuk Status Siaga 1, BBWSCC menerapkan warna merah yang lebih menyolok. kami memperhatikan hal tersebut pada materi presentasi Bapak David Marpaung,” kata Chen Xinyu 陈新宇
Bendung Katulampa di Bogor adalah garda terdepan sistem peringatan dini banjir Sungai Ciliwung. Selain, pada beberapa lokasi, pemerintah memasang CCTV tersebar sampai radius 5000 kilometer persegi. Ketika banjir, sebelum air sampai ke Jakarta, petugas BBWS CC sudah bisa melakukan mitigasi, karena sudah terdeteksi.
“Ketika pada wilayah hulu, pantauan di bendung Katulampa bogor, muka air naik dan bisa sampai Jakarta, berapa jam kemudian (terdeteksi melalui CCTV). Factor penentu (status banjir) di Sungai Ciliwung yang menyeberangi banyak kampung, perumahan padat, titik pantaunya di Pintu Air Bendung Katulampa, kabupaten Bogor,” pungkas David Marpaung.
Studi banding ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuan bersama dalam penanganan masalah banjir di wilayah masing-masing.(red/Ly/Yn)
