Cakrawala Merah, Jakarta – Chairman Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Mahendra Rianto menilai industry logistic bertautan dengan upaya mencapai kepariwisataan Indonesia sebagai yang terbesar atau minimal masuk lima besar (Big Five) pada tahun 2045 atau Indonesia Emas.
Strategi untuk pencapaian tersebut, salah satunya dengan dukungan industry logistic dan hospitality untuk kepariwisataan Indonesia.
“Kita harus menjadi negara terbesar di dunia, atau masuk Big Five. Hal ini sebagaimana prediksi World Bank,” ungkap Mahendra kepada Redaksi pada the 5th OCTF (Jakarta) di Mangkuluhur Artotel.
Untuk menjadi negara terbesar di industry pariwisata pada 2045, ada beberapa hal yang sangat signifikan. Aksesibilitas terutama transportasi dan logistic yang menentukan kemudahan akses menuju berbagai destinasi wisata yang ada di Indonesia.
Tanpa konektivitas yang efisien, potensi pariwisata suatu daerah tidak akan dapat terealisasi maksimal. Kenyamanan wisatawan dengan infrastruktur logistic yang solid tidak hanya mempermudah perjalanan, tetapi juga meningkatkan kenyamanan dan keseluruhan pengalaman wisatawan mulai dari kedatangan sampai kepulangan.
“Tinggal beberapa tahun lagi, untuk mencapai 2045 sebagai Indonesia Emas. Kalau dari industry, roadmap nya banyak sekali. Apa target produk yang jadi unggulan, serta skala prioritas untuk pasarnya, domestic atau global market,” kata alumni Fakultas Teknik Universitas Pancasila.
Gerbang utama, bandara domestic dan internasional, transportasi masal seperti kereta api, bus. Berfungsi sebagai pintu gerbang penyambutan jutaan wisatawan setiap tahun, menunjukkan peran logistic yang krusial. Berbagai upaya untuk mencapai target Indonesia Emas, ada beberapa potensi dan prospeknya. Kepariwisataan yang paling memungkinkan untuk pencapaian tersebut, dimana ribuan daerah tujuan wisata mulai dari Bali, Lombok sudah sangat dikenal.
“Potensi yang paling mudah di explore, pariwisata, seperti Danau Toba, sangat potensial juga dan tidak kalah dibanding Bali, Lombok. Semua perlu kerja keras, termasuk kebijakan dari pemerintah pusat yang turun ke industry dan pemerintah daerah” Imbuhnya
Mahendra juga membandingkan antara Indonesia dengan Jepang terkait strategi untuk mencapai target GDP yang lebih maksimal.
Sebagai perbandingan dengan Jepang, kita mengejar pencapaian Indonesia Emas, harus meningkatkan GDP (Gross Domestic Product) sampai tiga kali lipat, atau setara dengan 3 triliun US$. Kondisi sekarang, GDP Indonesia sekitar 1,3 triliun US$,” pungkas Mahendra.
Mahendra juga menekankan pentingnya peningkatan GDP guna mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045 mendatang. (Red/YmLy)
