Cakrawala Merah, Bandung – Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jawa Barat (Jabar) merespons kunjungan delegasi Hunan Federation of Returned Overseas Chinese pada Sabtu (24/05/2025) dengan penjelasan dan gambaran umum perpolitikan Tionghoa, yang sejarahnya kompleks, panjang. Selain perpolitikan Tionghoa di berbagai daerah di seluruh Nusantara dipengaruhi banyak faktor termasuk colonial, kebijakan pemerintah serta dinamika sosial.
“Diskusi dengan Hunan Federation mengenai kondisi Bandung yang notabene Ibu Kota Asia Afrika sejak penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika/KAA pada 18-24 April 1955. Di sisi lain, Bandung paling banyak kejadian kerusuhan anti Tionghoanya dibanding kota lain seperti Manado Sulawesi Utara, Makassar Sulawesi Selatan, Jakarta,” ketua INTI Jabar” ungkap Leon Hanafi
Diskusi delegasi Hunan dan jajaran pengurus INTI Jabar berlangsung sekitar satu jam, diselingi acara makan malam. Delegasi Hunan terdiri dari lima orang, diketuai Mr. Tang Li. Di sela diskusi, salah satu delegasi sempat membuat catatan singkat dari penjelasan Leon Hanafi.
“Awalnya saya sempat tanya maksud dan tujuan kunjungan ke Indonesia. Mereka jawab, (bahwa) mau tahu keadaan Tionghoa Indonesia di tengah dinamika sosial dan perpolitikan. Saya jelaskan apa adanya. Semua Tionghoa Indonesia di berbagai daerah, dari Aceh sampai Papua punya culture, mengadopsi budaya daerahnya masing-masing. Misalkan Medan, Kalimantan, NTT, dan lain sebagainya dengan culture berbeda-beda. Orang Tionghoa ada di Timor Leste, Kupang, perbatasan Timor Leste, Papua dan semuanya mengadopsi budaya setempat,” kata Leon Hanafi.
Jumlah kerusuhan anti Tionghoa di Bandung, ibaratnya siklus sepuluh tahunan. Merunut peristiwa PP 10/1959 sampai kerusuhan Mei 1998, siklus sepuluh tahunan yang dikaitkan dengan kerusuhan anti Tionghoa. PP 10/1959 sempat memicu beberapa kerusuhan anti Tionghoa di berbagai wilayah di Indonesia, seperti di Bandung pada tahun 1963.
Tidak lama, insiden Presiden John F. Kennedy ditembak dan meninggal pada 22 November 1963, di Dallas, Texas. Kematiannya mengganggu rencana kunjungan Kennedy ke Jakarta yang telah disiapkan oleh Presiden Soekarno. Demo mahasiswa ITB Bandung tahun 1993, gerakan mahasiswa yang lebih luas di Indonesia, yang bertujuan untuk menuntut perubahan politik dan sosial.
“Kerusuhan Mei 1998, orang Bandung sudah pengalaman dan kebal terhadap seringnya kerusuhan. Seharusnya kerusuhan 1992/93 sampai 1997, sebagai pemilu terakhir rezim orde baru. Waktu itu hasil Pemilu 1997, ada dugaan presiden Soeharto mundur, sampai akhirnya kejadian kerusuhan Mei 1998″ pungkas Leon. (Red/Ly/Ymn)
