Efektivitas Deteksi Dini Gejala Stroke dengan MRI, MRA

Spread the love

Cakrawala Merah, Jakarta – Slogan segera ke rumah sakit (RS) seketika mengenal gejala dan tanda-tanda stroke atau deteksi dini, akan lebih efektif kalau dibarengi dengan ketersediaan alat diagnostik Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Magnetic Resonance Angiography (MRA) di berbagai rumah sakit.

Penggunaan MRI – MRA juga membantu mendeteksi dini gejala stroke, mengingat ada yang kejadiannya (kondisi) muncul stroke tidak disadari atau silent stroke.

“Semoga, dengan bertambahnya MRI, MRA, dan harganya bisa semakin murah, sehingga setiap orang bisa melakukan tindakan preventif dengan lebih mantap,” kata ahli bedah saraf, Prof. Satyanegara di sela Symposium & Workshop Mayapada Hospital.

Stroke, kata Prof Satyanegara, adalah merupakan kondisi ketika pasokan darah ke otak terganggu karena penyumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Kondisi ini menyebabkan area tertentu pada otak tidak mendapat suplai oksigen dan nutrisi sehingga terjadi kematian sel-sel otak.

Prof Satyanegara kemudian mengungkap bahwa ada ciri-ciri stroke pada anak muda, biasanya sebagian pembuluh darah otak sejak lahir atau akibat kejadian yang mengganggu suplai darah ke otak. Stroke dapat disebabkan oleh sumbatan atau pecahnya pembuluh darah, sementara penyakit congenital mencakup kelainan perkembangan pembuluh darah sejak lahir (bawaan).

“Aneurisma aorta, pada pasien yang usianya 40 tahun ke atas. Tapi ada aneurisma aorta, seumur hidup (pasien), pembuluh darah otaknya tidak pernah pecah atau penyumbatan. Ibaratnya (pasien) berteman baik dengan penyakit bawaan. Dari buku-buku baru (mengenai bedah saraf) yang saya beli dari Jepang, ada faktor genetik, berkontribusi pada risiko stroke,” kata Prof. Satyanegara

Beberapa gen yang diketahui terkait dengan peningkatan risiko stroke termasuk PITX2 dan ZFHX3, yang berperan dalam kejadian stroke iskemik. Selain itu, mutasi pada gen tertentu dapat menyebabkan kondisi genetik yang meningkatkan risiko stroke hemoragik, seperti sindrom Ehler-Danlos.

“Dengan demikian, informasi untuk deteksi dini, prediksi risiko (penyakit) congenital belum jelas. Stroke yang secara umum, akibat (pecahnya) pembuluh darah di otak, informasi (untuk deteksi dini) jelas, mudah diketahui. MRI, MRA (untuk deteksi dan diagnosis) penyakit pembuluh darah bisa sangat membantu,” kata Prof. Satyanegara hari ini, Sabtu (03/05/2025) di Mayapada hospital, Lebak Bulus Jakarta Selatan. (Red/Ly/Ymn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *