TCH, Gelar Seminar Cegah Dini Gangguan Otak dan Saraf

Spread the love

Cakrawala Merah, Jakarta – Tim dokter Tzu Chi Hospital (TCH) Pantai Indah Kapuk (PIK) menggaungkan slogan lebih baik mencegah daripada mengobati di tengah upaya peran bersama menangani tumor otak, yang jumlah kasusnya signifikan di Indonesia.

Slogan tersebut parallel dengan fungsi pelayanan kesehatan rumah-rumah sakit di Indonesia, termasuk TCH yang menggelar seminar untuk masyarakat awam bertema ‘Kenali Sinyal Tubuhmu, Jangan Abaikan Gangguan Otak dan Saraf. Acara yang diselenggarakan pada Sabtu (26/04/2025) tersebut berlangsung selama dua setengah jam, dihadiri oleh sekitar 500 orang termasuk para tenaga medis. “misalkan saraf kejepit, mungkin pasien sudah terlambat mencegahnya walaupun sebenarnya masih bisa dicegah.

“Sinyal-sinyal di tubuh bukan sebatas saraf kejepit, pencegahannya dengan mengenal dari yang kecil, pasien jangan takut untuk periksa, kalau ketahuan ada signal atau tanda-tanda, lebih baik ketahuan dini, daripada terlambat mencegah,” kata Direktur Medis Tzu Chi Hospital, Dr. Suriyanto saat memberi kata sambutan pada seminar. 

Jumlah tumor otak di dunia diperkirakan mencapai 308.102 kasus pada tahun 2020. Namun, angka ini mungkin lebih besar karena tidak semua kasus tumor otak, terutama di negara berkembang, tercatat.

Insiden tumor otak ganas secara global adalah sekitar 5,57 per 100.000 orang. Kasus tumor otak di Indonesia cukup signifikan, termasuk tingkat kematiannya.

“Sehingga seminar kali ini, terkait otak dan saraf, ternyata sinyal bisa muncul darimana pun juga. Seminar ini bisa memberi manfaat yang luas. Peserta juga bisa menyebar-luaskan kepada tetangga, keluarga yang membutuhkan. Seminar hari ini berangkat dari niat baik kita bersama, sehingga kita bisa lebih sehat lagi. TCH bersyukur karena diberi kesempatan berkontribusi kepada masyarakat luas untuk mencegah tumor otak” tambah Dr. Suriyanto.

Di tempat yang sama, Direktur Senior TCH Prof. Satyanegara melihat perlu upaya bersama para stakeholders untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui pencegahan tumor otak.

“Untuk orang awam, kadang memeriksa dini lebih banyak dibayang rasa takutnya ketimbang mengenal, bahkan, banyak yang berpikir, mendingan terima nasib saja,” kata Prof. Satyanegara saat memberi keynote speech pada seminar. 

Proses di mana otak menerima dan menafsirkan berbagai sinyal dari tubuh, termasuk rasa dingin dan sakit, untuk memberikan informasi tentang kondisi tubuh. Otak berperan sebagai pusat kontrol yang menerima informasi sensorik dan mengolahnya untuk memberikan respons yang sesuai, seperti merasakan dingin atau sakit. Sinyal dari tubuh yang memiliki berbagai reseptor sensorik yang mendeteksi perubahan di lingkungan dan dalam tubuh, seperti suhu, tekanan, dan rangsangan mekanis.

Reseptor ini kemudian mengirimkan sinyal ke otak melalui saraf. Sinyal-sinyal ini kemudian diproses oleh otak, khususnya di daerah seperti korteks sensorik, untuk menafsirkan sebagai sensasi tertentu, seperti rasa dingin atau sakit.

“Semua signal memberi tahu. Prosesnya pada otak sangat luas. Seperti yang diutarakan dokter Suriyanto, (bahwa) saraf mengkoordinasi seluruh aktivitas tubuh, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Saraf bukan hanya rambut, kuku, tapi mencakup organ-organ tubuh lainnya,” kata Prof. Satyanegara.

Di sisi lain, Prof. Satyanegara dengan berbagai pengalamannya memberi ceramah kesehatan khususnya bedah saraf, mengaku ada kesulitan kalau audiens (pesertanya) yang berlatarbelakang bukan medis. Tapi pada seminar kali ini, ia melihat banyak peserta yang sebagian perawat atau yang juga disebut tenaga kesehatan atau nakes.

“Ada beberapa perawat yang sudah sekian puluh tahun, mengabdi di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) ekarang IHC RSPP, datang ikut seminar, mereka perawat yang pernah sekian puluh tahun ikut saya. tentunya mereka tidak begitu lama, tidak begitu sulit menyerap materi seminar terkait dengan gangguan otak dan saraf. Tapi kalau yang awam atau bukan berlatar belakang medis/kesehatan, butuh waktu lama untuk menjelaskan,” pungkas Prof. Satyanegara.

Kegiatan seminar edukasi tentang gangguan otak dan saraf masih tergolong jarang diadakan bagi masyarakat luas sehingga terobosan TCH kali ini menjadi sangat bermanfaat dan perlu terus digaungkan di berbagai tempat lainnya. (red/ly/ymn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *