CAKRAWALA MERAH, JAKARTA – Isu konservasi hewan langka panda yang menjadi icon Tiongkok sempat menjadi topik hangat dalam pertemuan antara delegasi Hubei Provincial Academy of Eco-environmental Sciences, China dengan pimpinan Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan / SPPB Universitas Indonesia.
Pertemuan SPPB UI dan Hubei Provincial Academy bahas konservasi hewan langka. Panda jadi ikon Tiongkok, sementara Hubei fokus lindungi lumba-lumba air tawar Yangtze.
Direktur SPPB UI, Prof. Supriatna, secara langsung bertanya kepada delegasi Hubei mengenai upaya menjaga habitat panda agar tetap lestari sebagai aset negara China.
Namun jawaban menarik justru datang dari pihak Hubei. Cai Junxiong, Presiden Hubei Provincial Academy of Eco-environmental Sciences, mengungkapkan bahwa provinsi Hubei justru fokus melindungi lumba-lumba air tawar yang kini terancam punah.
“Kami tidak punya habitat panda, tapi kami punya habitat lumba-lumba air tawar. Spesies ini hampir punah. Endemiknya di Yangtze River, habitatnya hidup di kota Yi Chang, provinsi Hubei,” ujar Cai Junxiong.
Fokus Diskusi: Pencemaran Industri dan Konservasi Biodiversitas
Pertemuan yang berlangsung hampir 2 jam di Kampus SPPB UI Salemba ini membahas isu pencegahan dan pengendalian pencemaran industri di wilayah tropis serta upaya konservasi biodiversitas.
Dari pihak SPPB UI hadir Prof. Supriatna, Prof. Yon Machmudi, Jelang Ramadhan, S.IP., M.Si., Ph.D selaku special staff GSSD, dan Leonora F. Waromi selaku researcher.
Sementara dari Hubei hadir Cai Junxiong, Liu Yougang, Zhu Yan, Liao Qi, Yi Chuan, dan Chen Liming.
Kedua pihak sepakat untuk membuat MoU / Memorandum of Understanding dengan UI terkait riset lingkungan.
Upaya Hubei Lindungi Lumba-Lumba Air Tawar Yangtze
Cai Junxiong menjelaskan, pemerintah kota Yi Chang sebagai pengelola Bendungan Tiga Ngarai / Three Gorges Dam di Sungai Yangtze juga bertanggung jawab menjaga habitat satwa.
Saat ini tercatat 1.024 ekor lumba-lumba air tawar* hidup di sepanjang Sungai Yangtze. Selain itu, Yi Chang juga menjadi habitat rusa dan monyet berbulu kuning.
“Pengelolaan habitat yang efektif membuat spesies langka tersebut tetap lestari,” tambah Cai.
Kerja Sama Riset Lingkungan UI – Hubei
Hubei Provincial Academy juga aktif dalam penelitian pengendalian polutan baru, pengelolaan limbah padat dan bahan kimia, serta kebijakan pembangunan hijau dan rendah karbon di industri logam non-ferrous daur ulang. Nilai GDP sektor ini mencapai 60 juta Yuan atau sekitar 10 juta USD.
Di bidang pendidikan, Hubei memiliki lebih dari 100 universitas. Wuhan University saja menampung lebih dari 1 juta mahasiswa dengan program studi Ilmu Lingkungan yang sudah berusia 50 tahun.
Pertemuan ini diharapkan menjadi awal kerja sama riset antara Indonesia dan China dalam menjaga keanekaragaman hayati dan lingkungan. (Red/Ly/Yn)
