Cakrawala Merah, Jakarta – Jihan Luthfun Nisa dan Rindu Rindang, dua mahasiswi program studi (prodi) mandarin Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), dua sosok remaja putri yang kesehariannya tidak lepas dari bahasa mandarin, terutama di kampus.
Mereka, pada usia muda belia, masing-masing mengaku punya _passion_ (hasrat) belajar bahasa mandarin dengan alasan dan motivasi berbeda. Tapi keduanya akrab dan sering diskusi belajar bersama untuk penyelesaian tugas-tugas kuliahnya di prodi Mandarin UAI.
“Passion belajar dan pemahaman Bahasa asing, menurut saya, cara yang paling tepat, dengan bertemu dengan yang bisa bicara _mother tongue_ (Bahasa ibu) mereka. Akhirnya saya pilih belajar mandarin di UAI,” kata Jihan Luthfun Nisa, mahasiswi semester III UAI.
Waktu lulus SMU di Padang, Sumatera Barat, ia sempat lolos Jalur Undangan universitas negeri ternama di Indonesia. Ia sadar, kuliah di universitas ternama menjadi impian setiap lulusan SMU. Kalau di Padang, memang Universitas Andalas yang sering menjadi incaran lulusan SMU.
“Saya diterima Jalur Undangan tapi ranking (peringkat) saya tidak terlalu di atas (tinggi). Teman akrab saya ambil prodi HI (Hubungan Internasional). Tapi anjuran Mama saya, untuk ambil prodi mandarin saja. Prospek ekonomi global juga tidak lepas dari penguasaan Bahasa asing, (yakni) mandarin dan Inggris. Tapi Mama saya yakin, kl penguasaan Bahasa Inggris terutama di Indonesia sudah sangat banyak. Sebaliknya, (penguasaan) mandarin belum banyak. Di Universitas Andalas, tidak ada prodi mandarin. Saya pun memilih UAI,” kata Jihan Luthfun Nisa.
Di sisi lain, sedari duduk di bangku SMP, ia mengaku sudah bercita-cita menjadi diplomat. Sehingga, ia mengaku sambil mandarin, sudah ancang-ancang ambil _double degree_ dengan ilmu hukum. Karena keinginan penguasaan Bahasa asing sudah ada sejak di SMP, ia pun sempat ambil les privat di Padang. Mamanya sempat mengantar ke tempat les privat di Padang.
“Hanya ada satu les privat mandarin di Padang. tapi waktu itu covid (2020 – 2022), Laoshi nggak mau mengajar (les privat mandarin) lagi. Saya dianjurkan untuk lanjut les mandarin di tempat Christine Hakim yang kebetuan orang Tionghoa, usahanya keripik balado. Nama Christine Hakim juga sudah sangat terkenal,” kata Jihan Luthfun Nisa.
Ia bersama anaknya Christine Hakim masuk kelas mandarin yang hampir semua pesertanya, warga Padang keturunan Tionghoa. Ia juga tidak pernah tahu, ada atau tidak peserta kursus mandarin yang bukan keturunan Tionghoa Padang.
“Saya nggak tahu dan tidak tertarik untuk mencari tahu. Tapi saya dengar, beberapa kampus di Padang, sudah buka program mandarin,” kata Jihan Luthfun Nisa.
Sementara itu, Rindu Rindang (mahasiswa prodi mandarin UAI) mengaku punya motivasi berbeda dengan Jihan. Sedari masih duduk di bangku SD, ia sempat belajar bahasa Jepang, Thailand, Korea, dan sekarang menekuni/belajar mandarin. Ia hanya belajar Bahasa asing (Thailand, Korea, dll) melalui internet. Tapi lama kelamaan, ia semakin tertarik untuk menguasai mandarin.
“Mungkin ketertarikan dengan mandarin karena suka nonton film drama Hongkong/Taiwan. Saya suka film drama bernuansa sekolah. Tingkat kesulitan, hanya awalnya saja. Tapi passion, tidak terbendung, sehingga gampang saja belajarnya,” pungkas Rindu Rindang, asal Tangerang Banten.
Baik Jihan maupun Rindu, sama-sama menekuni bahasa Mandarin guna mempersiapkan diri menghadapi tantangan perubahan dan perkembangan ekonomi global dimasa depan.(red/ly/ymn)
