Cakrawala Merah, Sukoharjo – Usaha kuliner yang dirintis almarhum H. Slamet Rahardjo di Sukoharjo, Jawa Tengah, menjadi bukti bahwa ketekunan dan prinsip hidup dapat mengantarkan sebuah usaha kecil menjadi jaringan nasional hingga mancanegara.
Berawal dari empat kali kegagalan, almarhum H. Slamet baru berhasil pada usaha keempatnya: Bebek Goreng H. Slamet. Dimulai dari gerobak dan menyewa tempat kecil, usaha ini terus berkembang hingga mampu membeli aset sendiri dan kini memiliki lebih dari 100 cabang, sebagian besar di dalam negeri serta 4 cabang di luar negeri. Setelah almarhum wafat, usaha dilanjutkan oleh anak dan cucu.
“Eyang baru berhasil pada usaha kuliner yang keempat, yaitu Bebek Goreng H. Slamet. Awalnya Eyang menyewa tempat kecil. Dari situ Eyang bisa membeli tempat dan terus berkembang,” ujar Zul, perwakilan generasi penerus usaha almarhum H. Slamet.
Filosofi Keseimbangan Surgawi dan Duniawi
Yang membedakan usaha ini bukan hanya cita rasanya, tetapi juga prinsip yang dipegang sejak awal. Keluarga secara rutin mendukung kegiatan sosial keagamaan seperti hafalan Al-Qur’an di pesantren, santunan anak yatim piatu, khitan massal, pembagian gerobak gratis, hingga pembangunan rumah ibadah.
Penerapan paling khas terlihat di kedai pusat di Kartasura. Kedai buka pukul 06.00 WIB setelah Shalat Subuh dan tutup pukul 14.00 WIB.
“Karena filosofinya, Eyang tidak mau mengejar target duniawi semata. Semua orang butuh waktu untuk ibadah. Ini juga bentuk berbagi kesempatan dan rezeki kepada orang lain. Supaya kami tidak serakah. Tidak ada istilah tanggung. Jam 2, teng, tutup,” jelas Zul.
Filosofi ini khusus diterapkan di kedai cikal bakal di Kartasura dan tidak diwajibkan di cabang lain.
Menjaga Tradisi dan Rantai Pasok Lokal
Kedai pusat di Kartasura yang berdiri sejak 1986 juga mempertahankan cara pelayanan tradisional. Tidak ada menu cetak, tidak ada waiter, dan tidak menerima pembayaran non-tunai seperti QRIS, debit, maupun transfer. Pesanan dicatat langsung oleh pelayan, dan pembayaran dilakukan secara tunai. Layanan pesan antar online seperti GrabFood juga tidak tersedia.
“Eyang menerapkan filosofi agar tidak bersentuhan dengan riba. Beliau cukup konservatif dalam hal ini. Kami tidak menggunakan sistem elektronik. Untuk menu, 90% tetap bebek. Ayam hanya 10% sebagai pelengkap,” kata Zul.
Usaha ini juga membangun ekosistem ekonomi. Satu cabang yang ramai bisa menyerap sekitar 200 ekor bebek per hari. Secara keseluruhan, rantai pasok keluarga ini menopang peternak bebek, petani sayur, pedagang beras, dan cabai. Kebutuhan cabai untuk bumbu utama saja bisa mencapai lebih dari 100 kg per hari.
“Bebek kami diprioritaskan fresh. Dari bebek hidup, disembelih, dikuliti, dipotong empat, langsung dikirim ke resto. Berbeda dengan rantai pasok resto lain yang biasanya dipotong, dikuliti, dibagi, lalu disimpan di refrigerator. Bebek kami hari itu disembelih, dipotong, langsung dijual,” pungkas Zul.
Hingga kini, Bebek Goreng H. Slamet tidak hanya menjadi usaha kuliner, tetapi juga warisan nilai: bekerja untuk dunia, tanpa melupakan akhirat.
Tentang Bebek Goreng H. Slamet
Bebek Goreng H. Slamet dirintis oleh almarhum H. Slamet Rahardjo sejak 1986 di Kartasura, Sukoharjo. Kini dikelola oleh generasi kedua dan ketiga keluarga, dengan 100+ cabang di Indonesia dan 4 cabang di luar negeri.
