Cakrawala Merah, Jakarta – Film Fuze itu thriller heist Inggris yang main di 2 trek sekaligus: penjinakan bom WWII dan perampokan bank. Konsepnya simpel tapi eksekusinya bikin film ini beda dari heist biasa.
Film ini pada bagian awalnya menyoroti pekerja konstruksi di Central London yang menemukan bom WWII yang belum meledak di lokasi pembangunan. Mayor Will Tranter (Aaron Taylor-Johnson) dari unit bomb disposal dipanggil buat jinakin bom itu sebelum meledak. Sementara itu, polisi evakuasi seluruh area di bawah komando Chief Superintendent Zuzana (Gugu Mbatha-Raw).
Gang kriminal Karalis (Theo James), X (Sam Worthington), dan timnya melihat ini sebagai sebuah kesempatan emas buat mereka untuk memanfaatkan kekosongan area, pemadaman listrik, dan kekacauan buat masuk ke bank dari belakang lewat terowongan. Apakah tujuan mereka jelas yaitu merampok berlian senilai puluhan juta pound ?
Film ini bolak-balik antara 3-4 lokasi: pit bom, vault bank, ruang kontrol polisi, dan satu keluarga yang kelihatannya nggak nyambung. Pertanyaannya: apa hubungannya?
Disinilah letak kekuatan film ini yaitu pertama pada struktur “Double-Engine” yang bikin tegang. Mackenzie nggak bikin plot linier melainkan dia membuat cross-cut antara prosedur penjinakan bom yang butuh presisi dan ketenangan, dengan heist yang brutal dan opportunistic. Kontras ini bikin tensi naik turun tapi nggak pernah lepas. Satu sisi all restraint, sisi lain all volatility.
Kekuatan kedua film ini terdapat pada twist dan suspensenya. Film ini “abounds in twists”. Dari awal kamu dikasih feel “oh ini heist standar”, tapi ternyata rencana aslinya nggak gitu. Dialog “Stick with the plan” di awal sengaja ngejebak penonton. Klimaksnya bener-bener ngebalik semua yang udah dibangun.
Selain itu aksi teknis yang meyakinkan juga menjadi kekuatan film ini dimana pada bagian penjinakan bom dibuat detail, ada visual silinder besar buat ngebor vault, monitoring high-tech di HQ polisi, dan prosedur remote yang bikin deg-degan. Mackenzie nggak asal bikin adegan aksi.
Namun film ini juga tentu memiliki celah kelemahan utama yang membuat penonton harus menggali sendiri latar belakang seluruh karakter yang ditampilkan dalam film FUZE ini.
Hal ini jelas terlihat dari sisi karakter yang minim backstory-nya. Ini kritik paling konsisten. “It’s all plot and zero character”. Taylor-Johnson basically main karakter yang mirip peran dia di Tenet tapi beda aksen. Motivasi para perampok baru dijelaskan di babak akhir, dan itu pun dianggap “daft” atau dipaksakan.
Kelemahan berikutnya terdapat pada babak 3 yang sedikit clunky flashback dan penjelasan di akhir film nggak semua orang suka. Beberapa review bilang endingnya “ridiculous” dan “overly ambitious”. Film yang tadinya realistis jadi agak konyol di 20 menit terakhir.
Selain itu dari sisi performa pemain dan arahan, Aaron Taylor-Johnson sebagai Major Tranter yang Fokus, tegang, tapi karakternya datar. Kemudian Theo James & Sam Worthington sebagai duo perampok: Chemistry mereka oke, Worthington sengaja dibuat “henchman” buat James. Sementara Gugu Mbatha-Raw sebagai Zuzana : Jadi mata dan telinga penonton di ruang kontrol. Perannya penting buat nyambungin 2 plot.
David Mackenzie sendiri dikenal chameleon director, Mackenzie pindah dari drama prison _Starred Up_, ke neo-Western _Hell or High Water_, sekarang heist thriller. Gaya dia di _Fuze_ old-school, “dad-friendly”.
Selain itu, pada sisi visual dan tone, opening pakai drum ‘n’ bass dengan drone shot London skyline. Tone film ini sweaty, propulsive, dan nggak banyak dialog panjang. CBR bilang film ini “clever, twisty”, tapi Slant Magazine nyebutnya “coldly mechanical”.
Namun overall, film ini cukup menarik untuk di tonton sebagai sebuah film aksi. Film Fuze berdurasi 97 menit yang fat-free dan to the point. (Red/das/BS)
