Ribuan Petani Sambut Putera Solo, Tegakkan Reforma Agraria di Sumatera Utara

Spread the love
Medan, CKWM – Penyelesaian konflik agraria sejak puluhan tahun lalu diperjuangkan sejak 1951 – 2020 ini belum pernah membuahkan hasil, mulai dari tingkat kabupaten hingga propinsi.
Namun, Serikat Perani Simalingkar Bersatu dan Serikat Tani Sei Mencirim Bersatu ini tak kunjung lelah dalam mempertahankan haknya demi keberlangsungan anak-cucu kelak.
Setelah tiga bulan lebih dari Medan – Jakarta, perwakilan Petani ini akhirnya kembali ke kampung halamannya didampingi Dewan Pembina kelahiran Jawa Tengah ini.
Hari ini mereka terus berjuang agar konflik antara petani di Sumatera Utara dengan PTPN II ini tidak lagi terjadi.
Dewan Pembina Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Sei Mencirim Bersatu (STMB), Aris Woyono disambut ribuan petani saat memasuki desa Simalingkar kecamatan Pancur Batu – Deli Serdang, Sumatera Utara.
Aris juga disematkan dengan kain “Uis Gara” dipundaknya¬† oleh seorang Petani dengan mengalungkan bunga berwarna merah dan putih.
Aris mengatakan ini adalah sebuah kehormatan besar bagi seorang yang bukan kelahiran Simalingkar. “Saya merasa melebur jadi Karo-Karo disini, dan sebuah kedekatan yang melebur menjadi satu,” ujar Aris lewat Video Call saat dihubungi, Sabtu siang tadi (3/10/2020).
Sebelumnya, ratusan petani ini, berangkat dari Simalingkar pada tanggal 25 Juni 2020 sampai 25 September 2020 dalam memperjuangkan hak Reforma Agraria yang telah puluhan tahun belum kunjung usai.
Dalam menunggu hasil tertulis dari negara, Aris berharap agar pihak yang berkepentingan bersikap adil dan bijaksana dalam menyelesaikan konflik agraria. ” Toh, tanah yang sudah diserahkan oleh Pemerintah Pusat – ke Petani sudah jelas, apa lagi, yang menjadi keberatannya,” ujar Aris.
Proses inventarisasi dan verifikasi sudah berlangsung dan sudah direkomendasi ke gubernur Sumatera Utara. “Selayaknya gubernur lebih arif dan bijak dalam menjalankan tugas dari Presiden RI Joko Widodo, terkait¬† program penyelesaian konflik agraria,” tandasnya.
Tampak, petani beriring-irigan dengan kenderaan roda dua dan roda empat yang menyerukan yel-yel, Hidup Petani, Hidup Petani, Hidup Petani (ams)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *